Popular Posts
  • KONSEP PERMINTAAN UANG DAN PENAWARAN UANG
  • MODEL PENGEMBANGAN WILAYAH DI NEGARA MAJU DAN NEGARA BERKEMBANG
  • KIRIM SMS GRATIS
  • 7 TRADISI LEBARAN DI BERBAGAI NEGARA
  • FAKTA DAN MITOS SEPUTAR ES KRIM
  • 7 TRAGEDI EKSPEDISI DI GUNUNG TERTINGGI DI DUNIA
  • 7 TEMPAT PERNIKAHAN TERANEH
  • 7 PENEMUAN BESAR MASA DEPAN
  • MONUMEN-MONUMEN PALING MISTERIUS DI DUNIA
  • 7 SELEBRITI DUNIA YANG DULUNYA SERING DIBULLY
Tampilkan postingan dengan label Smadani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Smadani. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Maret 2011

Dari hasil penemuan dan penelitian fosil-fosil manusia purba yang terdapat di beberapa tempat di dunia, seperti di Indonesia dapat diketahui bahwa sejak jutaan tahun yang silam dunia ini dihuni oleh beberapa jenis manusia purba yang hidupnya berbeda-beda. Diperkirakan manusia purba muncul pertama kali di muka bumi sekitar tiga juta tahun yang lalu, yaitu pada zaman yang disebut zaman pleistosen. Setelah membandingkan fosil-fosil manusia purba, maka dapat diketahui jenis-jenis manusia purba di Indonesia dan hasil kebudayaannya, yaitu :

a. Megantropus

Megantropus Palaeojavanicus adalah makhluk yang dianggap paling primitif. Megantropus adalah fosil manusia kera besar dari Jawa. Makhluk ini diperkirakan perawakannya sudah tegap dan usianya lebih tua dari Pithecantropus. Masih terbatasnya temuan fosil makhluk ini, maka belum diketahui kedudukannya dalam evolusi manusia. Makhluk ini diperkirakan hidup antara 2.500.000 tahun yang lalu sampai 1.250.000 tahun yang lalu. Menurut para ahli, Megantropus itu sebenarnya Pithecantropus Erectus juga, hanya tumbuh berkembang lebih besar. Hal yang sama dapat kita lihat pada manusia sekarang, dimana ada yang badannya besar dan ada yang kecil, ada yang tinggi dan ada yang pendek.


Menurut bentuk fosil itu, kening menonjol dan tulang pipi tebal. Megantropus Paleojavanicus termasuk jenis homo habilis. Homo habilis ialah makhluk yang mirip manusia dan mirip monyet agak berimbang. Disebut habilis, karena pada tempat-tempat penemuan tulang belulangnya ditemukan pula jenis-jenis batu yang tampaknya telah dipergunakan untuk peralatan, sekalipun jenis-jenis batu itu belum diolah. Jenis homo habilis hidup antara 3.750.000 tahun sebelum masehi dan 1.500.000 tahun sebelum masehi. Megantropus Paleojavanicus hidup dari makanan yang terutama berasal dari tumbuhtumbuhan.

b. Pithecantropus

Di Indonesia makhluk Pithecantropus hidup pada masa pleistosen awal sampai masa pleistosen akhir. Pithecantropus yang dianggap paling tua adalah Pithecantropus Mojokertensis. Dari temuan-temuan fosil di Mojokerto dan Sangiran para ahli berkesimpulan bahwa makhluk itu sudah berdiri tegak dan diperkirakan hidup 2.500.000 sampai 1.250.000 tahun yang lalu. Jenis lain dari makhluk Pithecantropus adalah Pithecantropus Erectus. Nama Erectus yang artinya berdiri diberikan berdasarkan temuan fosil tulang paha yang kemudian diduga makhluk ini sudah berjalan tegak. Tinggi badan makhluk ini diperkirakan 160-180 Cm dan berat badannya sekitar 80-100 Kg. Makhluk ini hidup sekitar 1.000.000 sampai 500.000 tahun yang lalu. Berdasarkan perkiraan, volume otaknya 900cc. Adapun volume otak manusia 1.000cc. Makhluk Pithecantropus Erectus diduga lebih menyerupai kera.

Perkiraan itu diperkuat oleh adanya tonjolan di bagian keningnya. Gerahamnya lebih besar daripada geraham manusia biasa. Adapun jenis makhluk Pithecantropus yang diperkirakan hidup pada masa pleistosen akhir adalah Pithecantropus Soloensis. Volume otak makhluk ini berkisar antara 1.000-1.300 Cc. Tinggi badan diperkirakan antara 165-180 Cm. Makhluk ini hidup antara 900.000-300.000 tahun yang lalu. Pithecantropus memiliki tulang rahang, tengkorak bagian atas dan tulang paha sebelah kiri. Dengan tulang paha yang ditemukan sudah dapat diketahui bahwa makhluk itu berdiri tegak dan tengkorak sudah mendekati manusia.

Pithecantropus Erectus hidup secara berkelompok dengan berburu dan menangkap ikan serta mengumpulkan makanan. Pithecantropus Erectus diperkirakan hidup dalam kelompok-kelompok kecil bahkan mungkin dalam keluarga-keluarga yang terdiri dari enam hingga 12 individu, yang memburu binatang di sepanjang lembah-lembah sungai di dataran Sunda, cara hidup seperti itu agaknya tetap berlangsung selama satu juta tahun. Mereka diduga belum mengenal memasak makanan. Perkiraan itu didasarkan pada kemiripan temuan alat-alat dari batu dan bentuk fisik antara fosil Pithecanthropus Erectus dan fosil Pithecanthropus Pekinensis yang ditemukan di goa Chou-kou-tien di Cina. Kemudian ditemukan sisasisa artefak yang terdiri dari alat-alat kapak baru di sebuah situs dekat desa Pacitan, dalam lapisan bumi yang berdasarkan data geologi diperkirakan berumur 800.000 tahun, dan diasosiasikan dengan fosil Pithecanthropus yang telah berevolusi lebih jauh. Alat-alat kapak batu tadi sangat mungkin mereka pergunakan untuk menguliti dan memotongmotong daging binatang buruan yang sebelumnya mereka bunuh, mungkin dengan tombak kayu.

Hasil-hasil kebudayaan Pithecantropus, salah satunya adalah alat-alat Pacitan yang berasal dari lapisan yang sama dengan ditemukannya fosil Pithecantropus, sehingga diperkirakan bahwa alat-alat tersebut dibuat dan digunakan oleh manusia prasejarah jenis Pithecantropus. Budaya Pacitan pada hakikatnya memiliki dua macam tradisi alat-alat batu, yaitu tradisi batu inti yang menghasilkan alat-alat dari pemangkasan segumpal batu atau kerakal dan tradisi serpih, yang menyiapkan alat-alat dari serpihserpih atau pecahan-pecahan batu.

c. Homo

Makhluk lain yang diperkirakan lebih sempurna dari Pithecantropus adalah Homo, yang juga berarti manusia. Manusia purba homo ini terdiri dari beberapa jenis, yaitu :


1. Homo Neanderthalensis


Jenis Neanderthalensis yang sudah ada di muka bumi sekitar 250.000 tahun yang lalu. Homo Neanderthalensis ini banyak mendiami daerah Eropa, Asia Barat, dan Afrika Utara. Kemampuan bertutur kata dari Homo Neanderthalensis diduga belum begitu berkembang. Volume otaknya bervariasi antara 1.000 sampai 2.000 Cc. Tinggi badan makhluk ini diperkirakan antara 130-210 Cm dengan berat- badan antara 30-150 Kg.

2. Homo Sapiens

Homo Sapiens sudah muncul di muka bumi sekitar 40.000 tahun yang lalu. Homo Sapiens ini sudah menyebar di hampir semua benua. Populasi homo sapiens sudah tersebar luas di Asia Tenggara, seperti di Niah, Serawak Malaysia, Palawan, Filipina, Cina selatan, dan di Australia yang diperkirakan hidup sekitar 3.000 tahun yang lalu. Fosil lain ditemukan di Wajak (dekat Tulung Agung, Jawa Timur).

Diduga Homo Sapiens ini sudah bertutur kata, sekalipun masih disertai dengan bahasa isyarat. Fosil Homo jika dibandingkan dengan jenis sebelumnya telah mengalami kemajuan. Mereka telah membuat alat-alat dari batu maupun tulang. Dalam berburu mereka telah mempergunakan alat-alat perburuan. Binatang hasil buruan setelah dikuliti lalu dibakar. Jenis umbi-umbian yang menjadi makanan mereka telah dimasak. Di lingkungan Homo Sapiens kemudian dikenal sekurang-kurangnya 5 ras pokok yang hidup sampai sekarang. Ketiga ras yang tersebar luas adalah Mongoloid, Kaukasoid, dan Negroid. Dua ras lagi yang persebarannya terbatas adalah ras Kosanoid dan Australomelanesoid. Adapun dari kelima ras itu yang mendiami Indonesia adalah Mongoloid dan Australomelanesoid.

Jenis manusia purba homo sapiens digolongan menjadi dua macam yang didasarkan pada daerah penemuannya, yaitu :


a. Homo Erectus Soloensis

Manusia tersebut dinamakan Soloensis, karena fosil-fosilnya bertebaran di sepanjang Bengawan Solo, yaitu di Ngandong Sambung macan dan Sangiran. Dari daerah ini, ditemukan dua buah tulang kaki dan 11 tengkorak dengan ukuran yang lebih besar dari pada Pithecanthropus yang lebih tua umurnya. Tengkoraknya menunjukkan tonjolan yang tebal di tempat alis, dengan dahi yang miring ke belakang. Suatu analisis cermat atas tengkorak tersebut yang dilakukan oleh ahli paleoantropologi di Indonesia (Teuku Yakup 1967) membenarkan bahwa manusia Ngandong itu merupakan keturunan langsung dari Pithecanthropus Erectus.

Homo Soloensis hidup sekitar 300.000 tahun sebelum masehi. Homo Soloensis mempergunakan perkakas batu, yang disebut kapak genggam, yaitu alat batu berupa kapak yang tidak bertangkai. Kapak itu dipergunakan dengan cara digenggam dalam tangan. Menurut Koenigman, manusia purba ini memiliki tingkat berpikir lebih tinggi dari pithecantropus erectus.

Diduga bahwa jenis Homo Soloensis ini adalah keturunan dari Pithecantropus Erectus. Menurut perkiraan, jenis ini pernah tinggal dan berkumpul di lembah sungai, artinya mereka sudah punya peralatan dan komunikasi. Manusia soloensis mungkin menyebar kemudian punah.


b. Homo Wajakensis


Fosil manusia purba Homo Wajakensis ditemukan di daerah Wajak, Jawa Timur. Penyelidikan terhadap sisa manusia Wajak menyimpulkan bahwa tengkoraknya berbeda dengan tengkorak bangsa Indonesia. Tengkorak itu lebih banyak persamaannya dengan tengkorak penduduk asli Australia. E. Debois melihat Homo Wajakensis ada persamaannya dengan orang Australia pribumi purba. Oleh karena itu, Eugene Dubois menduga Homo Wajakensis termasuk dalam ras Australoide, bernenek moyang Homo Soloensis dan kelak menurunkan langsung bangsa asli Australia. Manusia Wajak itu menyebar ke barat dan timur Benua Australia. Sebuah tengkorak kecil dari seorang perempuan, sebuah rahang bawah dan sebuah rahang atas dari manusia purba itu sangat mirip dengan manusia purba ras Australoid purba yang ditemukan di Talgai dan Keilor yang rupanya mendiami daerah Irian dan Australia.

Menurut Von Koenigswald, Homo Wajakensis seperti juga Homo Soloensis berasal dai lapisan plestosen atas dan mungkin sekali sudah bisa dikelompokkan dalam jenis Homo Sapiens. Karena sifat-sifat fisiknya lebih mendekati manusia sekarang (lebih muda dari manusia Solo), manusia itu merupakan bentuk evolusi dari manusia Solo. Dari sisa-sisa penemuan tampaknya Homo Wajakensis sudah mengenal penguburan.

Di pulau Jawa dan bagian Barat kepulauan Indonesia Malaya diperkirakan manusia purba mengembangkan kebudayaan berburu didaerah muaramuara sungai tidur di belakang tadah angin atau gua-gua mereka membuat perahu lesung yang mula-mula untuk menangkap ikan di rawa-rawa sepanjang pantai. Sebagai alat pemotong mereka menggunakan kapak tangan berbentuk cakram yang diasah tajam. Sisa-sisa alat ini ditemukan di situs-situs pra sejarah jenis abris sous roche dan moddinger di sepanjang Jawa Timur, Sumatera Timur dan Utara, Malaysia hingga Vietnam Utara. Manusia purba dari ras Autromelanesoid di bagian timur kepulaun nusantara dan Irian sudah membuat lukisan-lukisan gua juga alat-alat dari pecahan batu kecil (flakes) sebagai alat pemotong dengan pegangan kayu.


Alat-alat ini mereka bawa dan sebarkan ke arah barat yaitu dengan diketemukan alat-alat tersebut di gua-gua prasejarah Jawa Timur hal ini menandakan bahwa ada arus imigrasi ke Pulau Jawa. Kira-kira abad 40 sebelum masehi pulau Jawa merupakan daerah pertemuan dari ras dan kebudayaan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri Mongoloid itu disebabkan karena ada arus migrasi yang berasal dari daratan Asia, dan yang bergerak ke pulau-pulau di Indonesia Timur, diduga mereka mengikuti rute persebaran komplek kebudayaan Bascon-Hoabinh, dalam perjalanannya ke kepuluan Nusantara, orang-orang ras Mongoloid itu agaknya bertemu dan kadang-kadang berbaur dengan orang-orang ras Australoid yang datang dari kepulauan di sebelah timur, dan berpindah ke arah barat sampai ke Jazirah Melayu.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat diklasifikasikan jenis-jenis manusia purba yang ditemukan di Indonesia sesuai dengan zamannya, yaitu:


Sumber: http://gurumuda.com/bse/jenis-jenis-manusia-purba-dan-hasil-kebudayaannya
»»  READMORE...
Uang memegang peranan penting dalam kegiatan ekonomi suatu negara. Tanpa uang, kegiatan perdagangan tidak akan lancar. Tanpa uang kegiatan perdagangan menjadi sangat terbatas serta spesialisasi tidak dapat berkembang. Saat ini semua negara di dunia menggunakan perekonomian uang. Semakin modern suatu negara, semakin penting peranan uang dalam mendorong kegiatan perdagangannya.


1. Permintaan Uang

Berdasarkan teorinya permintaan uang (money demand), dibagi menjadi dua, yaitu teori kuantitas uang klasik dan teori uang Keynesian.


a. Teori Kuantitas (Klasik)

Menurut pandangan ekonomi klasik, fungsi uang hanya sebagai alat tukar. Oleh karena itu, jumlah uang yang diminta berbanding proporsional dengan tingkat output atau pendapatan. Jika tingkat output meningkat, jumlah uang yang diminta akan meningkat. Demikian sebaliknya.

Teori kuantitas uang menyatakan bahwa per ubahan nilai uang atau tingkat harga merupakan akibat adanya perubahan jumlah uang yang beredar. Bertambahnya jumlah uang yang beredar dalam masyarakat mengakibatkan turunnya nilai mata uang. Menurunnya nilai mata uang sama artinya dengan naiknya tingkat harga. Pendapat tersebut dinyatakan dalam persamaan berikut.


Di dalam persamaan tersebut, M sama dengan jumlah uang kertas, logam, dan uang giral yang beredar dalam perekonomian. Kecepatan peredaran uang (V) ditentukan berdasarkan seringnya uang beredar atau berpindah tangan dalam masyarakat selama satu tahun. Nilai P ditentukan berdasarkan indeks harga. Adapun T, menunjukkan transaksi jumlah barang dan jasa yang diperjual belikan. Kecepatan peredaran uang tetap dan penggunaan tenaga kerja penuh (full employment) sudah tercapai.


b. Teori Permintaan Uang Keynes

Menurut Teori Keynes ada tiga motivasi orang memegang uang, yaitu untuk transaksi, berjaga-jaga, dan memperoleh keuntungan.

1) Motif Transaksi (Transaction Motive)

Setiap orang yang bekerja ingin memperoleh upah atau uang untuk membeli (transaksi) barang-barang kebutuhannya. Masyarakat me megang uang dengan tujuan untuk mempermudah kegiatan transaksi sehari-hari. Permintaan uang untuk transaksi berhubungan positif dengan tingkat pendapatan, artinya jika pendapatan meningkat, kebutuhan uang untuk bertransaksi akan meningkat.

2) Motif Berjaga-jaga (Precaution Motive)

Hal lain yang memotivasi orang memegang uang, yaitu persiapan untuk menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan atau yang tidak terduga. Misalnya, sakit atau mengalami kecelakaan. Permintaan uang untuk berjaga-jaga berhubungan positif dengan pendapatan. Jika pendapatan me ningkat, jumlah uang untuk berjaga-jaga juga meningkat.

3) Motif Mendapatkan Keuntungan (Speculation Motive)

Motivasi menyimpan uang untuk memperoleh keuntungan disebut sebagai motivasi spekulasi. Misalnya, membeli surat-surat berharga seperti obligasi dan saham perusahaan. Keynes mengembangkan teori ini berdasarkan asumsi bahwa uang merupakan aset finansial yang dapat dimiliki masyarakat. Aset lainnya, yaitu obligasi (surat utang yang disertai janji memberikan pendapatan bunga). Permintaan uang untuk tujuan spekulasi ditentukan oleh tingkat bunga. Hubungan antara tingkat bunga dan permintan uang berbanding terbalik berdasarkan pertimbangan memperoleh keuntungan (spekulasi).


2. Penawaran Uang

Penawaran uang (money supply) adalah jumlah uang yang beredar. Dalam mempelajari penawaran uang harus dibedakan antara mata uang dalam peredaran dan uang yang beredar. Mata uang dalam peredaran adalah mata uang yang telah dikeluarkan dan diedarkan oleh Bank Sentral. Mata uang tersebut terdiri atas uang kertas dan uang logam. Dengan demikian, mata uang dalam peredaran sama dengan uang kartal. Adapun uang beredar, yaitu semua jenis uang yang berada di dalam perekonomian (mata uang dalam peredaran ditambah dengan uang giral pada bank-bank umum).

Teori penawaran uang, meliputi teori penawaran uang tanpa bank dan teori penawaran uang modern.


a. Teori Penawaran Uang Tanpa Bank

Teori ini merupakan teori yang paling sederhana. Teori ini merupakan gambaran dari sistem standar emas, ketika emas menjadi satu-satunya alat pembayaran. Jumlah uang beredar atau uang yang ditawarkan di masyarakat naik atau turun sesuai dengan tersedianya emas di masyarakat. Dalam sistem moneter seperti itu, uang beredar ditentukan oleh proses pasar. Adapun pemerintah, Bank Sentral, ataupun perbankan tidak memiliki pengaruh terhadap besarnya uang yang beredar. Dalam hal ini, penawaran uang hanya bertambah jika orang memproduksi emas (baru). Jadi, jumlah uang beredar bergantung pada perilaku produsen emas. Produsen emas hanya akan memproduksi apabila menguntungkan.

Standar uang yang biasa digunakan ada dua macam, yaitu standar kertas dan standar logam.

1) Standar Kertas

Standar kertas adalah sistem keuangan yang menggunakan uang kertas sebagai alat tukar atau alat pembayaran yang sah dan tidak terbatas, tetapi tidak dapat ditukarkan dengan emas dan perak pada bank sirkulasi.

2) Standar Logam (Metalisme)

Standar logam (metalisme) dibedakan menjadi dua, yaitu standar monometalisme dan standar bimetalisme.

a) Standar monometalisme, terjadi jika suatu negara menggunakan standar uangnya hanya satu buah logam mulia. Misalnya hanya menggunakan emas atau menggunakan perak.

b) Bimetalisme dua logam, standar ini dapat dibagi menjadi tiga, yaitu standar pincang, standar paralel, dan standar kembar.

(1) Standar pincang adalah standar uang yang menggunakan emas sebagai standar uang dan perak sebagai alat pembayarannya.

(2) Standar paralel adalah standar uang yang menggunakan dua logam mulia berupa emas dan perak secara bersama-sama sebagai standar uangnya. Namun, perbandingan yang berlaku hanya satu macam, yaitu menurut pasar saja.

(3) Standar kembar adalah standar uang yang menggunakan dua logam mulia, berupa emas dan perak secara bersama-sama sebagai standar uangnya.

Jika suatu negara menggunakan standar kembar, dalam negara tersebut akan berlaku Hukum Gresham, yang berbunyi: bad money always drives out good money. Artinya, uang yang jelek

akan mengusir keluar uang yang baik. Syarat berlakunya Hukum Gresham, yaitu sebagai berikut.

(a) Negara tersebut menggunakan standar kembar.

(b) Bank Sentral memperjualbelikan logam mulia, baik berupa emas maupun perak.

(c) Masyarakat diberikan kebebasan untuk menempa dan melebur uang emas atau perak.

(d) Perbandingan emas dan perak menurut pemerintah serta pasar berbeda.

Mekanisme peleburan emas dan perak dapat dilihat pada Tabel 7.1 dan Bagan 7.1 berikut.


Berdasarkan Tabel 7.1 dan Bagan 7.1 dapat dijelaskan bahwa, jika seseorang memiliki satu uang emas, ia akan cenderung untuk melebur menjadi satu batangan emas. Setelah menjadi satu batangan emas kemudian ditukarkan dengan 25 batangan perak. 25 batangan perak tersebut dibuat uang perak yang hanya memerlukan 20 perak. Dengan demikian, ia telah untung sebesar 5 batangan perak. Jika Hukum Gresham berlaku, masyarakat akan cenderung membuat uang perak (uang jelek) dan melebur uang emas (uang bagus).

b) Teori Penawaran Uang Modern

Dalam perekonomian modern, para produsen emas tidak lagi memiliki peranan moneter yang penting seperti dalam sistem standar emas. Dalam sistem standar kertas, sumber dari terciptanya uang beredar, yaitu otoritas moneter (Bank Sentral). Otoritas moneter merupakan produsen uang inti atau uang primer. Adapun lembaga keuangan (perbankan) merupakan produsen uang sekunder bagi masyarakat. Keduanya berhubungan sangat erat karena uang sekunder (uang giral) hanya bisa tumbuh karena ada uang primer. Uang sekunder diciptakan oleh bank berdasarkan atas uang primer yang dipegang bank (cadangan bank).

Sumber: http://gurumuda.com/bse/konsep-permintaan-uang-dan-penawaran-uang
»»  READMORE...

Kamis, 17 Maret 2011

Pengembangan wilayah adalah suatu upaya yang sengaja dilakukan dalam membangun dan mengembangkan suatu wilayah secara fisik maupun sosial untuk mencapai kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan di wilayah bersangkutan. Orientasi pengembangan wilayah di berbagai negara maju maupun negara berkembang tentunya berbeda-beda. Hal itu antara lain disebabkan oleh kondisi fisik maupun sosial dari setiap negara yang berbeda-beda pula. Namun, secara umum orientasi pengembangan wilayah di negara maju dan negara berkembang dapat diuraikan sebagai berikut.


1. Model Pengembangan Wilayah di Negara Maju

Negara maju merupakan negara yang mempunyai ciri utama antara lain tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi serta aktivitas perekonomiannya berbasis industri pengolahan (manufaktur) dan jasa. Melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, negara maju mampu mengolah kekayaan sumber daya alam yang terdapat di wilayahnya ataupun di wilayah negara lain melalui kerja sama antarnegara secara efektif dan efisien. Proses pengolahan sumber daya alam menjadi barang jadi dapat diartikan sebagai industrialisasi. Oleh karena itu, negara maju sering pula disebut sebagai negara industri. Melalui industrialisasi negara-negara maju mampu memacu pertumbuhan ekonominya yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan nasional (GNP). Dengan demikian, pendapatan per kapita penduduknya menjadi meningkat, dalam arti lain tingkat kesejahteraan penduduk di negara maju secara ekonomi menjadi tinggi.

Dari uraian tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa orientasi model pengembangan wilayah di negara maju yang paling utama adalah pemberdayaan sumber daya manusia secara optimal melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Model pengembangan wilayah yang berorientasi kepada pemberdayaan sumber daya manusia secara optimal melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, mengakibatkan negara-negara maju mampu mengatasi masalah-masalah sosial yang lebih kompleks, seperti timbulnya daerah kumuh (slum area), kurangnya lapangan pekerjaan, produktivitas tenaga kerja yang rendah dan tingkat pendapatan yang rendah serta tingkat pendidikan yang rendah. Secara umum, pembangunan fisik di segala bidang dapat berlangsung secara teratur dan terencana. Secara umum, negara-negara maju mempunyai karakteristik sebagai berikut.

a. Titik berat perekonomiannya pada sektor industri dan jasa.
b. Angka harapan hidup tinggi.
c. Tingkat kematian bayi rendah.
d. Tingkat pendidikan penduduknya rata-rata tinggi.
e. Tingkat pendapatan per kapita penduduknya tinggi.
f. Sebagian besar penduduknya tinggal di wilayah perkotaan.

2. Model Pengembangan Wilayah di Negara Berkembang

Secara umum model pengembangan wilayah di negara-negara berkembang lebih menitikberatkan pada sektor agraris, yaitu sektor-sektor yang berhubungan dengan upaya-upaya pengolahan sumber daya alam secara langsung, seperti pertanian, perkebunan, kehutanan, pertambangan dan perikanan sedangkan sektor industri cenderung hanya merupakan upaya yang berskala kecil dan hanya terkonsentrasi di wilayah perkotaan. Namun demikian, hasil produksi dari sektor agraris di negara-negara berkembang mempunyai kecenderungan semakin menurun. Hal ini antara lain disebabkan oleh faktor-faktor berikut ini.

a. Perubahan fungsi lahan dari lahan agraris menjadi peruntukan lainnya karena dorongan kebutuhan pokok penduduknya yang semakin bertambah terutama kebutuhan akan perumahan sehingga luas lahan menjadi semakin berkurang yang tentunya berdampak terhadap menurunnya hasil produksi sektor agraris.

b. Hasil produksi dari sektor agraris pada umumnya bersifat subsistence, artinya hasil produksi hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri.

c. Pengelolaan sektor agraris belum menghasilkan produksi yang optimal karena belum menggunakan alat-alat produksi yang modern.

d. Beberapa bagian dari sektor agraris terutama bidang peternakan di usahakan dalam bentuk usaha sampingan sehingga hasilnya pun belum optimal.

e. Beberapa bagian dari sektor agraris terutama bahan tambang pada umumnya merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui (unrenewable resources) sehingga ketersediaannya di alam semakin berkurang.

Oleh karena terjadinya kecenderungan penurunan hasil produksi di sektor agraris, model pengembangan wilayah di negara-negara berkembang sekarang ini pada umumnya adalah dengan mengubah titik berat pereko nomiannya dari sektor agraris ke sektor industri. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan industrialisasi di negara berkembang, antara lain sebagai berikut.

a. Industrialisasi merupakan proses pengolahan bahan mentah atau bahan baku yang dihasilkan dari sektor agraris menjadi bahan setengah jadi atau barang jadi sehingga mempunyai nilai guna dan nilai komersial yang lebih tinggi.

b. Industrialisasi merupakan salah satu sektor yang dapat memacu terjadinya peningkatan arus barang dan jasa antarwilayah atau antarnegara.

c. Industrialisasi merupakan salah satu sektor yang dapat memacu terjadinya penyerapan tenaga kerja dan peningkatan variasi lapangan kerja.

d. Industrialisasi merupakan salah satu sektor yang dapat memotivasi sumber daya manusia untuk menguasai dan meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologinya.

e. Industrialisasi merupakan sektor yang dapat memacu terjadinya perubahan dari masyarakat tradisional dengan taraf hidup rendah menjadi masyarakat modern dengan taraf hidup yang lebih tinggi.

Namun, orientasi pembangunan dan pengembangan wilayah secara fisik maupun sosial dari sektor agraris ke sektor industri di negara-negara berkembang seringkali mendapat hambatan yang sangat berat.


Menurut Todaro (1983), karakteristik umum negara-negara berkembang adalah sebagai berikut.
a. Tingkat Kehidupan yang Rendah

Penduduk di negara-negara berkembang pada umumnya mempunyai tingkat kehidupan yang rendah yang dicirikan dengan angka harapan hidup yang rendah, angka kematian bayi yang tinggi, pendapataan per kapita rendah, sarana dan prasarana kesehatan yang kurang memadai, tingkat pendidikan yang rendah, dan kondisi perumahan yang kurang layak huni.

b. Tingkat Produktivitas yang Rendah

Produktivitas tenaga kerja di negara-negara berkembang cenderung sangat rendah jika dibandingkan dengan produktivitas di negara-negara maju. Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas tenaga kerja di negara-negara berkembang, antara lain:

1) kualitas penduduk dalam hubungannya dengan keterampilan atau keahlian dan penguasaan teknologi yang dimiliki oleh tenaga kerja di negara-negara berkembang masih rendah;

2) kepemilikan modal yang rendah;

3) manajemen yang kurang baik;

4) birokrasi pemerintahan yang korup, kurang efektif, dan kurang efisien sehingga menciptakan kondisi investasi yang kurang baik.

c. Tingkat Pertumbuhan Penduduk dan Beban Tanggungan yang Tinggi

Tingkat pertumbuhan penduduk alami adalah angka pertumbuhan penduduk yang didapat dari besarnya jumlah kelahiran dikurangi jumlah kematian penduduk pada suatu negara dalam jangka waktu satu tahun. Di negara-negara berkembang, angka kematian penduduk relatif tinggi, namun demikian besarnya angka kelahiran jauh lebih tinggi. Akibatnya jumlah penduduk di negara-negara berkembang dari waktu ke waktu selalu tetap bertambah. Oleh karena itu, negara-negara berkembang pada umumnya mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi yaitu rata-rata lebih dari 2% per tahun, sedangkan negara-negara maju tingkat per tumbuhan penduduk rata-ratanya kurang dari 2% per tahun.

Akibat yang ditimbulkan dari tingginya tingkat pertumbuhan penduduk di negara berkembang, yaitu semakin banyaknya penduduk yang berusia muda 0–14 tahun yang jumlahnya dapat mencapai lebih dari 30% dari total jumlah penduduk di suatu negara berkembang. Kondisi kependudukan tersebut mengakibatkan beban tanggungan yang tinggi bagi penduduk yang berusia produktif. Hal itu membawa dampak terhadap pendapatan per kapita penduduk di negara berkembang yang juga menjadi rendah.

d. Tingkat Pengangguran yang Tinggi

Kondisi ketenagakerjaan di negara-negara berkembang sebagian besar berupa tenaga pengangguran. Sebagian dari tenaga kerja tersebut terlihat mempunyai pekerjaan, tetapi sebenarnya merupakan pengangguran terselubung. Pengangguran terselubung adalah tenaga kerja yang mem punyai pekerjaan tidak menentu (musiman) atau tenaga kerja yang bekerja kurang dari 35 jam dalam waktu satu minggu. Tingginya tingkat pengangguran di negara-negara berkembang, antara lain disebabkan oleh jumlah tenaga kerja yang melebihi jumlah atau kapasitas lapangan pekerjaan serta tenaga kerja yang mempunyai kualitas rendah atau tenaga kerja yang tidak sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan oleh lapangan pekerjaan.

e. Tingkat Kebergantungan terhadap Produksi Pertanian dan Ekspor Produksi Primer yang Tinggi

Proporsi jumlah penduduk di negara-negara berkembang yang ber mukim di wilayah pedesaan pada umumnya lebih tinggi daripada penduduk yang bermukim di wilayah perkotaan. Oleh karena itu, mata pencarian penduduk di negara-negara berkembang pada umumnya di sektor agraris, yaitu sektor yang mengolah produk-produk primer, seperti pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan. Produk primer merupakan bahan ekspor yang menjadi andalan negara berkembang dan menyumbang lebih dari 30% dari produk domestik. Akibatnya, negara-negara berkembang selalu berada dalam posisi defisit atau merugi, dibandingkan dengan negara-negara maju yang lebih banyak mengandalkan ekspor dari produk industri manufaktur dan jasa.

f. Tingkat Kekuasaan Secara Ekonomi dan Politik yang Rendah

Secara ekonomi, negara-negara berkembang mempunyai taraf hidup yang rendah, sedangkan negara-negara maju mempunyai taraf hidup yang lebih tinggi. Dalam arti lain, negara berkembang identik dengan negara dunia ketiga (negara kurang akaya atau tidak kaya), sedangkan negara maju identik dengan negara kaya. Ketimpangan tersebut mengakibatkan tingkat kekuasaan dan pengendalian secara ekonomi dan politik di kancah internasional bagi negaranegara berkembang menjadi lemah atau rendah.

g. Tingkat Kebergantungan terhadap Negara Maju yang Tinggi

Ketimpangan secara ekonomi dan sosial-politik antara negara maju dan negara berkembang mengakibatkan negara-negara maju dengan mudah mengendalikan keadaan politik dan perdagangan dunia dan mendikte negara-negara berkembang. Bentuk perlakuannya antara lain melalui pemberian bantuan luar negeri (pinjaman atau utang), alih teknologi dan relokasi industri dengan syarat-syarat dan cara-cara yang ditentukan oleh negara-negara maju. Keadaan tersebut mengakibatkan kebergantungan yang tinggi dari negara-negara berkembang terhadap negara-negara maju. Pada akhirnya, menimbulkan sifat mudah terpengaruh (vulnerability) terhadap negara maju baik secara ekonomi, sosial, politik, maupun budaya.

Sumber: http://gurumuda.com/bse/model-pengembangan-wilayah-di-negara-maju-dan-negara-berkembang#more-14861
»»  READMORE...

Jumat, 28 Januari 2011

Jembatan Ponulele

Sejarah Sulawesi Tengah

Provinsi Sulawesi Tengah dibentuk tahun 1964. Sebelumnya Sulawesi Tengah merupakan salah satu wilayah keresidenan di bawah Pemerintahan Provinsi Sulawesi Utara-Tengah. Provinsi yang beribukota di Palu ini terbentuk berdasarkan Undang-undang No. 13/1964.

Seperti di daerah lain di Indonesia, penduduk asli Sulawesi Tengah merupakan percampuran antara bangsa Wedoid dan negroid. Penduduk asli ini kemudian berkembang menjadi suku baru menyusul datangnya bangsa Proto-Melayu tahun 3000 SM dan Deutro-Melayu tahun 300 SM. Keberadaan para penghuni pertama Sulawesi Tengah ini diketahui dari peninggalan sejarah berupa peralatan dari kebudayaan Dongsong (perunggu) dari zaman Megalitikum.

Perkembangan selanjutnya banyak kaum migran yang datang dan menetap di wilayah Sulawesi Tengah. Penduduk baru ini dalam kehidupan kesehariannya bercampur dengan penduduk lama sehingga menghasilkan percampuran kebudayaan antara penghuni lama dan baru. Akhirnya, suku-suku bangsa di Sulawesi Tengah dapat dibagi dalam tiga kelompok, yaitu, Palu Toraja, Koro Toraja, dan Poso Toraja.

Pada abad ke 13, di Sulawesi Tengah sudah berdiri beberapa kerajaan seperti Kerajaan Banawa, Kerajaan Tawaeli, Kerajaan Sigi, Kerajaan Bangga, dan Kerajaan Banggai. Pengaruh Islam ke kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tengah mulai terasa pada abad ke 16. Penyebaran Islam di Sulawesi Tengah ini merupakan hasil dari ekspansi kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan. Pengaruh yang mula-mula datang adalah dari Kerajaan Bone dan Kerajaan Wajo.

Pengaruh Sulawesi Selatan begitu kuat terhadap Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Tengah, bahkan sampai pada tata pemerintahan. Struktur pemerintahan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tengah akhirnya terbagi dua, yaitu, yang berbentuk Pitunggota dan lainnya berbentuk Patanggota.

Pitunggota adalah suatu lembaga legislatif yang terdiri dari tujuh anggota dan diketuai oleh seorang Baligau. Struktur pemerintahan ini mengikuti susunan pemerintahan ala Bone dan terdapat di Kerajaan Banawa dan Kerajaan Sigi. Struktur lainnya, yaitu, Patanggota, merupakan pemerintahan ala Wajo dan dianut oleh Kerajaan Palu dan Kerajaan Tawaeli. Patanggota Tawaeli terdiri dari Mupabomba, Lambara, Mpanau, dan Baiya.

Pangaruh lainnya adalah datang dari Mandar. Kerajaan-kerajaan di Teluk Tomini adalah cikal bakalnya berasal dari Mandar. Pengaruh Mandar lainnya adalag dengan dipakainya istilah raja. Sebelum pengaruh ini masuk, di Teluk Tomini hanya dikenal gelar Olongian atau tuan-tuan tanah yang secara otonom menguasai wilayahnya masing-masing. Selain pengaruh Mandar, kerajaan-kerajaan di Teluk Tomini juga dipengaruhi Gorontalo dan Ternate. Hal ini terlihat dalam struktur pemerintahannya yang sedikit banyak mengikuti struktur pemerintahan di Gorontalo dan Ternate tersebut. Struktur pemerintahan tersebut terdiri dari Olongian (kepala negara), Jogugu (perdana menteri), Kapitan Laut (Menteri Pertahanan), Walaapulu (menteri keuangan), Ukum (menteri perhubungan), dan Madinu (menteri penerangan).

Dengan meluasnya pengaruh Sulawesi Selatan, menyebar pula agama Islam. Daerah-daerah yang diwarnai Islam pertama kali adalah daerah pesisir. Pada pertengahan abad ke 16, dua kerajaan, yaitu Buol dan Luwuk telah menerima ajaran Islam. Sejak tahun 1540, Buol telah berbentuk kesultanan dan dipimpin oleh seorang sultan bernama Eato Mohammad Tahir.

Mulai abad ke 17, wilayah Sulawesi Tengah mulai masuk dalam kekuasaan kolonial Belanda. Dengan dalih untuk mengamankan armada kapalnya dari serangan bajak laut, VOC membangun benteng di Parigi dan Lambunu. Pada abad ke 18, meningkatkan tekanannya pada raja-raja di Sulawesi Tengah. Mereka memanggil raja-raja Sulawesi Tengah untuk datang ke Manado dan Gorontalo untuk mengucapkan sumpah setia kepada VOC. Dengan begitu, VOC berarti telah menguasai kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tengah tersebut.

Permulaan abad ke 20, dengan diikat suatu perjanjian bernama lang contract dan korte verklaring, Belanda telah sepenuhnya menguasai Sulawesi Tengah, terhadap kerajaan yang membangkang, Belanda menumpasnya dengan kekerasan senjata. Pada permulaan abad ke 20 pula mulai muncul pergerakan-pergerakan yang melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda. Selain pergerakan lokal, masuk pula pergerakan-pergerakan yang berpusat di Jawa. Organisasi yang pertama mendirikan cabang di Sulawesi Tengah adalah Syarikat Islam (SI), didirikan di Buol Toli-Toli tahun 1916. Organisasi lainnya yang berkembang di wilayah ini adalah Partai Nasional Indonesia (PNI) yang cabangnya didirikan di Buol tahun 1928. organisasi lainnya yang membuka cabang di Sulawesi Tengah adalah Muhammadiyah dan PSII.

Perlawanan rakyat mencapai puncaknya tanggal 25 Januari 1942. Para pejuang yang dipimpin oleh I.D. Awuy menangkap para tokoh kolonial seperti Controleur Toli-Toli De Hoof, Bestuur Asisten Residen Matata Daeng Masese, dan Controleur Buol de Vries. Dengan tertangkapnya tokoh-tokoh kolonial itu, praktis kekuasaan Belanda telah diakhiri. Tanggal 1 Februari 1942, sang merah putih telah dikibarkan untuk pertama kalinya di angkasa Toli-Toli. Namun keadaan ini tidak berlangsung lama karena seminggu kemudian pasukan Belanda kembali datang dan melakukan gempuran.

Meskipun telah melakukan gempuran, Belanda tidak sempat berkuasa kembali di Sulawesi Tengah karena pada waktu itu, Jepang mendarat di wilayah itu, tepatnya di Luwuk tanggal 15 Mei 1942. dalam waktu singkat Jepang berhasil menguasai wilayah Sulawesi Tengah. Di era Jepang, kehidupan rakyat semakin tertekan dan sengsara seluruh kegiatan rakyat hanya ditujukan untuk mendukung peperangan Jepang. Keadaan ini berlangsung sampai Jepang menyerah kepada Sekutu dan disusul dengan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada awal kemerdekaan, Sulawesi tengah merupakan bagian dari provinsi Sulawesi. Sebagaimana daerah lainnya di Indonesia, pasca kemerdekaan adalah saatnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diraih. Rongrongan terus datang dari Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Belanda menerapkan politik pecah-belah dimana Indonesia dijadikan negara serikat. Namun akhirnya bangsa Indonesia dapat melewati rongrongan itu dan ada tanggal 17 Agustus 1950 Indonesia kembali menjadi negara kesatuan.

Sejak saat itu, Sulawesi kembali menjadi salah satu provinsi di Republik Indonesia dan berlangsung hingga terjadi pemekaran tahun 1960. Pada tahun tersebut Sulawesi dibagi dua menjadi Sulawesi Selatan-Tenggara yang beribukota di Makassar dan Sulawesi Utara-Tengah yang beribukota di Manado. Pada tahun 1964, Provinsi Sulawesi Utara-Tengah dimekarkan menjadi provinsi Sulawesi Utara yang beribukota di Manado dan Sulawesi Tenagh yang beribukota di Palu.

Sumber:  http://sejarahbangsaindonesia.co.cc/1_22_Sejarah-Sulawesi-Tengah.html
»»  READMORE...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...